Sejak berabad-abad lalu, Nusantara telah menjadi bagian dari jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai kawasan di dunia. Kapal-kapal datang dan pergi membawa beragam komoditas, sekaligus mempertemukan pedagang, pelaut, dan masyarakat dari latar budaya yang berbeda. Di tengah aktivitas tersebut, kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit dan lainnya tumbuh menjadi bagian penting dalam sejarah perdagangan dan pelayaran di kawasan ini.
Salah satu jejak yang dapat membantu kita memahami kehidupan perdagangan masa lalu adalah uang dan berbagai alat tukar yang pernah digunakan. Koin-koin dari Cina, kepingan emas dan perak, hingga mata uang yang dikeluarkan oleh kerajaan-kerajaan lokal menyimpan cerita tentang hubungan antardaerah dan hubungan Nusantara dengan dunia luar. Benda-benda kecil ini dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana barang diperdagangkan, jalur pelayaran dibangun, dan hubungan ekonomi berkembang dari satu masa ke masa berikutnya.
Jejak numismatik tersebut tidak hanya ditemukan dalam konteks Sriwijaya dan Majapahit. Temuan dari Samudra Pasai, Bangka, Cirebon, Banten, hingga Bali memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan dan penggunaan uang terus berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Setiap temuan memiliki cerita tersendiri, mulai dari perubahan pusat perdagangan hingga hubungan antarpelabuhan yang menghubungkan masyarakat di berbagai pulau.
Penelitian terbaru juga membuka peluang untuk memahami sejarah perdagangan Nusantara dari sudut pandang yang berbeda. Temuan koin dari masa Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah di Situs Bongal, Sumatra Utara, misalnya, memberikan petunjuk mengenai hubungan kawasan ini dengan jaringan perdagangan dunia Islam pada masa awal. Temuan seperti ini mengingatkan kita bahwa sejarah perdagangan Nusantara masih menyimpan banyak hal yang perlu ditelusuri dan dipahami lebih jauh.
Meski demikian, uang kuno belum banyak menjadi bagian dari percakapan publik tentang sejarah Indonesia. Kita sering mengenal masa lalu melalui kisah kerajaan, tokoh, dan peristiwa politik. Padahal, koin dan alat tukar juga dapat membantu menjelaskan bagaimana kekuasaan dijalankan, bagaimana perdagangan berlangsung, serta bagaimana manusia dan kebudayaan saling terhubung. Melalui numismatik, sejarah tidak hanya dibaca dari catatan tertulis, tetapi juga ditelusuri melalui benda-benda yang ditinggalkan oleh masyarakat pada zamannya.
Berangkat dari gagasan tersebut, Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2026 mengangkat tema “Numismatik Nusantara: Perdagangan dari Era Sriwijaya hingga Majapahit dan Periode Setelahnya.” Tema ini mengajak kita melihat uang kuno bukan semata-mata sebagai benda koleksi, melainkan sebagai bagian dari cerita panjang tentang perdagangan, perjalanan, dan pertemuan berbagai kebudayaan. Pembahasannya tidak berhenti pada Sriwijaya dan Majapahit, tetapi juga mencakup berbagai kerajaan, pelabuhan, dan pusat perdagangan yang berkembang pada masa-masa berikutnya.
Semarang menjadi tempat yang menarik untuk membicarakan tema ini. Sebagai kota di pesisir utara Jawa, Semarang memiliki sejarah panjang dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Kedudukannya sebagai kota pelabuhan menjadikannya bagian dari dinamika pertemuan berbagai orang, barang, dan kebudayaan. Dari Semarang, pembicaraan tentang uang dan perdagangan dapat diperluas untuk melihat bagaimana kota-kota pesisir berperan dalam membentuk hubungan ekonomi dan budaya di Nusantara.
Melalui tema ini, BWCF 2026 ingin membuka ruang perbincangan yang lebih luas mengenai numismatik dan sejarah perdagangan Indonesia. Para peneliti, akademisi, pegiat sejarah, serta masyarakat umum diajak untuk melihat kembali berbagai temuan uang kuno dan artefak perdagangan sebagai sumber pengetahuan yang dekat dengan kehidupan manusia. Dari kepingan-kepingan uang yang tersisa, kita dapat menelusuri kisah tentang perjalanan, hubungan antarmasyarakat, dan perubahan yang membentuk Nusantara hingga hari ini.
Rangkaian Acara BWCF 2026
Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang mempertemukan gagasan, pengetahuan, dan ekspresi seni. Melalui pidato kebudayaan, simposium, forum Call for Presentation, dan ceramah umum, festival ini menjadi ruang untuk berbagi pandangan serta membicarakan berbagai hal terkait sejarah dan kebudayaan Nusantara.
Selain diskusi dan pertukaran gagasan, BWCF 2026 juga menghadirkan seni pertunjukan yang memadukan sastra dan musik. Rangkaian ini memberi ruang bagi pertemuan antara pemikiran dan ekspresi kreatif, sekaligus mengajak pengunjung menikmati kebudayaan melalui beragam cara.


